Tuntunan Ibdah Di Bulan Muharram

Yuk, mari kita mengetahui masalah tuntunan ibadah di bulan muharram oleh ust H abdul Somad Lc MA

Kontes SEO Century21 Broker Properti jual beli rumah indonesia

Di sini sebuah informasi yang sangat berguna bagi anda yang hendak mencari sebuah rumah dan bagi anda yang membutuhkan lowongan kerja

Pengenalan dan Merancang Strategi Sistem E-Bussines

Nah, bagi yang sering dengar kata-kata E-Bussines. Namun, belum tahu apa itu e-bussines atau baru tahu. check jha di sini

Buat kamu-kamu yang nyari informasi kode pos di daerah mu, di sini tempatnya.

5 Sayuran Sederhana yang Kaya Khasiat

Mau tahu beberapa sayuran yang mengandung banyak manfaat bagi tubuh dan sayuran itu ada di sekitar kita. Check jha.

Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2012

KELEMAHAN PERFORM TIM NASYID ACAPELLA

KLINIK DIKLAT EDISI 2
Dear ANN Jateng. Sebelumnya selamat ya, sebagian kalangan nasyid menjuluki ANN Jateng sebagai ibukota nasyid Indoensia he he. Nah lho, dapat PR besar. Saya mau tanya, kalo untuk tim acapella, sebenernya apa saja sih yang bikin tim menjadi jelek saat tampil. Tenkyu Bro
Wira-Sumatera Punya

Wow, pertanyaan yang bagus sekali. To the point aja yak, berdasarkan pengalaman ada beberapa kelemahan perform tim nasyid acapella saat tampil di panggung. Tentu saja ini membuat penampilan tim menjadi jelek.

1. Alur tidak terkonsep
Pada event reguler, biasanya tim acapella membawakan 3 – 5 lagu, kecuali pada event wedding atau event khusus. Idealnya, lagu pembuka dan lagu penutup adalah lagu yang paling bagus. Namun, kadangkala saking tidak sabaran untuk show up, si munsyid malah mengeluarkan lagu-lagu jagoannya di awal. Lagu penutup malah yang biasa-biasa saja. Penonton yang tidak begitu perhatian, akan menutup kesan tentang tim tersebut kurang lebih seperti ini “Ooooh ternyata biasa aja tho,” Bandingkan jika ditengah perform kita tidak maksimal, tapi lagu terdahsyat disajikan di akhir, “Oooo ternyata bagus ya,” seperti itulah persepsi pendengar

Kesalahan lainnya, tim tidak mampu menyusun lagu-lagunya menjadi satu kesatuan yang mengasyikkan. Ibarat alur cerpen ada pembukaan yang menarik- mulai konflik – konflik puncak –dan anti klimaks, seperti itu juga seharusnya kita menyusun urutan lagu.

2. Asyik sendiri/Gak komunikatif
Menyanyi itu bercerita. Ada pesan kebaikan dalam cerita berwujud nasyid ini. Dalam bercerita, ada dua tokoh : si pencerita dan yang diceritai. Bayangkan seandainya si pencerita itu asyik sendiri : main-mainin microphone gak jelas, matanya cuma menatap dinding samping, wajah tertunduk malu. Akhirnya yang diceritai merasa dicuekin, dan pandangannya siap-siap beralih dari artis menuju layar HP. SMS diterima – SMS dikirim ^_^

3. Attacking awal yang gak asyik
Pernahkah teman-teman menonton sebuah tim nasyid, dengan muka kaku memelas, membuat awalan lagu hanya bermodal kata “lagu pertama kami...X. Baik lagu kedua kami Y...Terima kasih, lagu terakhir kami Z,”. Kalo iya, pertanyaan selanjutnya adalah apa yang ada dibenak teman-teman tentang tim nasyid tersebut? Kasihan? Pengen ketawa? Atau malah berdecak kagum?

Idealnya sebuah lagu diawali dengan sesuatu menarik, entah itu kata-kata memukau, bunyi-bunyian acapella yang menarik, ataupun koreografi yang keren. Kesan pertama harus begitu menggoda.

Kadangkala tim beralasan waktu tampilnya kurang untuk melakukan hal itu. Ingat! Setiap tim mulai sekarang harus menanamkan dalam dirinya “Aku harus mendapat repeat order dari penampilanku saat ini,” Jadi, jangan mau kalo diminta tampil 3 lagu tapi waktu yang disediakan 10 menit. Teman-teman acapella akan kesulitan membangun awalan yang menarik. Yang ada malah teman-teman gugup karena harus menyelesaikan 3 lagu dalam waktu 10 menit. Alih-alih berharap diundang lagi, malah yang ada tim nasyid kita ter-DO dari daftar pengisi acara selanjutnya (kecuali kalo gak ada pilihan lain, selain tim kita he he).

4. Kucel dan semerawut
Nasyid itu indah? Sepakat gak? Kalo sepakat, berarti sepakat juga dengan opini bahwa segala sesuatu perangkat nasyid harus disiapkan dengan indah, termasuk penampilan personil. Bohong besar kalo ada yang bilang suara bagus aja cukup, gak peduli dengan tampilan tim nasyid tersebut. Saat tim tampil, berarti penonton sedang menyiapkan rekaman audio visual tentang tim tersebut. Suara bagus tapi mukanya kucel, baju kusut, pake acara basket (basah ketek, ups ^^) segala. Kalangan pencinta nasyid aja ogah, apalagi orang biasa. Sampai kucing bertanduk (kapan ya he he), mimpi nasyid jadi hiburan hotel, TV, hanya akan menjadi mimpi belaka. Lha, wong penampilan musisi di luar nasyid bagus-bagus, bersih-bersih bin indah-indah kok.

Mulai sekarang, mari kita tanamkan nasyid itu indah dengan menjaga kebersihan dan keindahan penampilan. Jika ingin nasyid membumi, pakailah standar penampilan di bumi. Jangan sampai menjadi terdakwa perusuh dakwah seni, hanya karena saat tampil yang satu pake kaos, yang satu pake kemeja, yang lainnya pake jaket. Yang satu pake jins, sisanya pake celana bahan kain.

5. Gak Kompak
Yang namanya tim acapella, paling tidak ada 5 kepala dengan pikiran yang berbeda. Sering kejadian saat tampil, yang satu pengen nyanyi Kekasih Allah Awan, yang lain pengen nyanyi Tobat The CS (misalnya lho he he). Dan itu ditentukan di atas panggung. Alhasil, pihak yang merasa kalah jadi ogah-ogahan nyanyi.

6. Ending lagu yang gak memukau
Suatu saat manajemen ANN Jateng nonton konser sebuah band ternama dalam rangka belajar manajemen performance buat tim-tim kita. Satu hal yang membuat kita tertegun. Band itu pintar sekali menutup ending lagu-lagu dengan manis. Ada yang ditutup dengan melodi yang manis. Ada yang ditutup dengan dramaturgi/ koreo yang mengesankan. Ada yang ditutup dengan memancing penonton untuk menyanyikan akhir lirik lagu itu. Sayangnya, belum banyak tim acapella yang mampu melakukan ini. Endingnya standar, flat, dan mudah ditebak.

Sumber ANN Jateng 

Penampilan Nasyid

Penampilan dilakukan di atas sebuah panggung. Sebuah tim nasyid harus memiliki persiapan-persiapan terlebih dahulu ketika akan perform di depan penonton.

Ada beberapa hal yang pokok yang perlu dipersiapkan oleh Tim nasyid ketika akan tampil, yaitu: persiapan ruhiyah yaitu persiapan yang berhubungan dengan hati, dan persiapan lahiriah atau jasadiyah adalah apa yang dapat kita lihat secara kasat mata dari tim nasyid. Sebuah tim nasyid harus memiliki persiapan-persiapan terlebih dahulu ketika akan perform di depan penonton.


1. Persiapan ruhiyah:

Maksud dari persiapan ruhiyah yaitu persiapan yang berhubungan dengan hati. Ini menjadi prioritas dikarenakan posisi munsyid yang berhadapan langsung dengan penonton (audiences) yang sarat dengan timbulnya penyakit hati ataupun masalah hati. Tim nasyid pada dasarnya adalah seorang pendakwah di sisi lain dia juga adalah musisi. Untuk itu citra seorang muslim yang baik harus melekat pada kepribadian munsyid dan di sisi lain dia juga harus mempunyai kemampuan dalam olah vokal.
Disarankan untuk seorang munsyid agar mengikuti pengajian minimal seminggu sekali agar selalu diingatkan dengan materi-materi ataupun juga ayat-ayat Allah. Sehingga kondisi hati akan selalu terjaga. Juga selalu meng-up grade kemampuan vokal dengan latihan-latihan yang ringan dan rutin dari materi yang telah kita sajikan sebelumnya serta apabila dananya cukup bisa mendatangkan guru vokal.
Persiapan ruhiyah ini menyangkut niat dan persiapan materi ketika tampil, sebagai berikut:

a. Niat
Nasyid adalah bagian dari syiar Islam itu sendiri tidak hanya seni yang menonjolkan kemampuan olah vokal seorang munsyid. Oleh karena itu, diperlukan niat yang ikhlas dan hati yang selalu jernih ketika kita akan bernasyid. Insya Allah perbuatan yang kecil akan menjadi besar di hadapan Allah ketika kita bisa menempatkan niat kita. Terlebih lagi dengan nasyid yang mewakili seni Islam.
Nasyid bisa dikatakan bagian dari hiburan. Seperti halnya hiburan lain, biasanya berkaitan dengan pemirsa ataupun pendengar yang menyaksikan kita. Maka diperlukan niat yang ikhlas lilLahi ta’ala agar nasyid yang kita sampaikan bermanfaat baik bagi yang mendengarkan maupun yang bernasyid.

b. Materi yang akan disampaikan
Seorang munsyid dituntut untuk menguasai materi yang siap untuk disampaikan. Untuk mengingatkan pendengar dengan nasyid yang dibawakan. Konsepnya yaitu kultum dan materinya berhubungan dengan nasyid yang kita bawakan. Secara teknis tausyiah atau kultum ini bisa disampaikan ketika jeda atau pada saat kita selesai bernasyid.
Disarankan juga untuk mempersiapkan materi dari mulai pembukaan sampai penutupan pentas. Tidak hanya bernasyid saja, munsyid harus tetap komunikatif dengan audiences, misalkan dengan mengajak ngobrol serta memberikan joke yang segar. Oleh karena itu persiapan materi menjadi penting. Harus dilihat juga bahwa nasyid adalah bentuk komunikasi yang menghibur bukan sekedar seni yang menghadirkan ketrampilan suara dan musik saja.

2. Persiapan Jasadiyah

Persiapan lahiriah atau jasadiyah adalah apa yang dapat kita lihat secara kasat mata dari tim nasyid. Didalamnya terdapat unsur kesehatan dari munsyid, kostum atau busana, dan ekspresi.

a. Kesehatan
Kesehatan atau kondisi prima sangat diperlukan ketika kita bernasyid. Bisa terbayangkan apabila kita bernasyid sedangkan kita lagi sakit batuk atau flu. Maka seorang munsyid diusahakan sedang dalam kondisi fit ketika bernasyid. Karena akan berpengaruh langsung terhadap performance tim nasyid secara keseluruhan.

b. Kostum
Penampilan luar terdiri dari kostum yang kita pakai. Untuk kostum apabila ada budget yang lebih disarankan seragam. Kostum atau busana tim nasyid harus sopan, rapih, dan tentu saja menutupi aurat. Kostum yang seragam merupakan bagian dari penampilan yang standar dari tim nasyid. Tidak harus sama warna bisa juga sama model atau sebaliknya dan yang paling bagus adalah sama warna baik atasan maupun bawahan dan sama model. Ini memperlihatkan kekompakan dan sebuah nilai plus tersendiri untuk tim nasyid.
Biasanya tim nasyid tidak lepas dari aksesoris kopiah atau peci, selendang atau sorban. Aksesoris tersebut bisa saja ditambahkan sebagai ciri khas dari tim nasyid.

c. Ekspresi
Ekspresi adalah bagian penting dalam pementasan nasyid. Karena pada hakikatnya menyanyi adalah perbuatan mengekspresikan lagu melalui vokal. Untuk itu dalam hal ekspresi yang harus diperhatikan oleh seorang munsyid adalah membuat diri kita yang pertama kali merasakan kesan dari lagu itu sendiri. Apakah kesan itu sedih, gembira, merinding atau tersenyum dan sebagainya. Sebagai munsyid kita harus menggali pesan atau makna yang terdalam dari nasyid yang kita bawakan dan pesan ini kita salurkan kepada pendengar melalui lantunan kita.
Tips Ketika Tampil di Panggung

1. Saat jeda antara satu lagu dengan lagu yang lain, isilah dengan tausyiah yang bermanfaat (dianjurkan setiap munsyid mengisi ruhiahnya dengan intens agar banyak ilmu agama yang dapat disampaikan).
2. Sampaikanlah dengan perantaraan hikmah, tidak memaki kaum tertentu atau menghujat. Bawalah ke suasana yang nyaman namun tausyiahnya sampai.
3. Buat permainan yang menyenangkan dan mengandung hikmah, bila ada waktu, untuk jeda ambil nafas dalam bernyanyi.
4. Bila ada kesalahan dalam penampilan diatas panggung. Jangan berdebat diatas panggung. Bila ada hal itu terjadi lebih baik salah satunya mengalah. Evaluasikan diluar panggung.
5. Bila ada kesalahan dalam bernyanyi diatas panggung baik kesalahan teman atau kesalahan sendiri jangan menggelengkan kepala atau mendecak tanda kesal.
6. Selamat bernasyid semoga Allah ridho dengan apa yang kita lakukan.


Sumber: Bogor Nasheed Center

Rabu, 15 Februari 2012

Latihan Olah Vokal

A. Pernapasan
Pernapasan terdiri dari dua yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut.

Pertama, Pernapasan dada sangat mudah karena sering kita lakukan sehari-hari. Pernapasan dada adalah bernapas seperti halnya normal kita bernafas.

Kedua, Pernapasan perut dalam bernyanyi diperlukan agar bisa lebih tahan lama dan lebih maksimal mengeluarkan suara, power kita akan keluar. Pernapasan perut memungkinkan kita untuk bernyanyi dengan menggunakan ‘teknik’ bernyanyi. Latihan untuk membiasakan pernapasan perut ketika kita bernyanyi terdiri dari 4 langkah sebagai berikut :

1. Ambil udara dari mulut sekuat-kuatnya, masukkan ke dalam perut kita.

2. Setelah bisa merasakan bahwa udara telah memenuhi perut kita (seperti ada balon dalam perut kita yang terus kita pompa)

3. Lalu keluarkan udara dengan suara yang mendesis atau mirip suara angin yang keluar dari ban mobil bocor. Suara tersebut harus datar tidak boleh bergelombang. Rahang kita dalam keadaan santai, lidah dan gigi kita digunakan seakan-akan menghalangi aliran udara. Sehingga kita harus berusaha keras untuk mengeluarkan udara dari perut. Proses pengeluaran suara dari mulut tersebut biasanya bervariasi yaitu antara 20-60 detik.

4. Setelah selesai mengosongkan perut, teruskan latihan tersebut selama lima kali. Proses latihan pernapasan ini akan berpengaruh pada otot abdominal kita yang biasa digunakan untuk bernyanyi.
Latihan di atas disebut dengan Hissing Cycle. Jika tiap hari kita berlatih teknik ini dengan durasi waktu cukup 5 menit saja maka 2 minggu kemudian akan sangat terasa sekali pengaruhnya terhadap kualitas vokal kita. Insya Allah.

B. Mengeluarkan suara ketika bernyanyi
Ada 4 cara untuk mengeluarkan suara
1. Pertama yaitu dari dada, digunakan untuk suara yang rendah dan halus. Nada-nada rendah menerapkan pengeluaran suara dari dada. Caranya yaitu dengan merasakan bergetarnya dada ketika kita mengeluarkan suara. Posisi Bas pada tim nasyid (acapella) banyak menggunakan teknik ini.

2. Kedua, di tenggorokan, biasanya kita bernyanyi di wilayah ini dan akan sangat capai sekali bila kita terus bernyanyi di wilayah ini. Seorang penyanyi yang amatir akan terus bernyanyi di wilayah ini sehingga akan kedodoran dan get hoarse/parau. Kita berbicara menggunakan teknik ini.

3. Ketiga, di mulut hampir sama dengan di tenggorokan.

4. Terakhir adalah di luar mulut (seakan-akan berada di atas kepala, biasa disebut dengan resonansi) digunakan untuk suara yang tinggi dan memungkinkan keluar suara secara maksimal dengan dibantu pernapasan dari perut. Ketika kita berteriak tanpa terasa kita menggunakan teknik ini.

Teknik mengeluarkan suara yang telah dijelaskan di atas digunakan semuanya ketika kita bernyanyi. Untuk nada yang rendah, kita gunakan suara dada. Untuk nada yang normal kita gunakan suara tenggorokan, yang lebih tinggi dari suara normal kita, gunakan suara mulut. Dan nada yang paling tinggi, kita pergunakan suara resonansi kita. Perlu berlatih lama untuk bisa membedakan dan membiasakan cara pengeluaran suara tersebut.

C. Pemanasan
1. Mulai dengan pernapasan perut: praktekkan pernapasan perut di atas pada awal latihan
2. Cara mengeluarkan suara:
A I U E O: lafalkan bunyi huruf vokal ini yang di urut dari nada rendah sampai dengan nada tinggi yang bisa kita capai.
3. Dinamisasi
- ma ma ma ma ma ma ma ma (2X)
ma ma ma ma ma ma ma ma ma……….
- ni ne no ha! ha! ha (3 X)

sumber: Bogor Nasheed Center

Profesionalisme dalam Bernasyid


Bagaimana menjadi seorang munsyid yang profesional bukanlah hal yang mudah. Banyak proses yang harus dilalui agar dapat menjadi sebuah tim nasyid yang profesional. Ada sebuah prinsip manajemen yang dapat kita adopsi yaitu POAC (Planning, Organizing, Actuating and Controlling) untuk menuju sebuah profesionalisme.







1. Planning (Perencanaan)

1.1. Tentukan visi dan misi

Visi dan misi dari sebuah tim penting ditentukan bersama agar tidak terjadi ketimpangan atau konflik di dalam tim. Dalam menentukan visi harus disepakati bahwa nasyid adalah seni musik dakwah dan bukan tim vokal biasa. Hal ini harus diikuti dengan kesalehan dari para munsyidnya. Selain itu harus ditentukan pula apakah tim ingin menjadi profesional atau hanya ingin menyalurkan hobi atau mengisi waktu senggang. Karena bila didalam tim ada yang ingin profesional namun ada pula yang hanya ingin mengisi waktu luang atau sekedar menyalurkan hobi maka akan timpanglah karena disaat latihan kemungkinan ada yang tidak serius atau sering tidak masuk karena tidak disiplin. Disarankan oleh seorang pembina tim nasyid agar saling membentuk tim baru yang memiliki visi yang sama. Lalu menentukan misi sebagai pembawa syair islami kepada siapa saja. Apakah kepada mahasiswa atau masyarakat biasa. Karena syair yang dibawa pun pasti akan berbeda pula sesuai dengan segmen yang dituju. Seperti grup nasyid Raihan yang membawa nasyid easy listening yang bisa diterima oleh yang tua maupun muda, lalu tim nasyid Gradasi dan Justice Voice yang lebih nge-pop dengan jenis musik acapella yang lebih condong kepada segmen remaja.

1.2. Tentukan karakter tim

Karakter dalam tim adalah sebuah ciri khas tim tersebut yang sering lebih menentukan keberhasilan tim tersebut daripada kemampuan dalam bermusik. Tim-tim musik atau nasyid yang sudah terkenal kebanyakan karena mereka memiliki karakter yang khas dalam musiknya dan itu dapat membuat mereka bertahan dan bersaing hingga sekarang. Seperti tim nasyid Saujana yang memiliki karakter khas dari vokalisnya sehingga lagu-lagu melayu menjadi lebih ‘modern’ bila dinyanyikan begitu pula dengan tim dan perkusinya. Jenis dalam nasyid tidak berbeda dengan dalam musik yaitu acapella atau memakai alat musik. Acapella pun banyak jenisnya seperti pop, reggae, mars, haroki (seperti nasyid-nasyid perjuangan Palestina), dangdut (dengan perkusi mulut), fusion (dengan tempo cepat), tango dll. Dengan alat musik pun juga bervariasi seperti melayu, haroki (menggunakan drum), pop, salsa, orkestra dll.
Dengan variasi warna-warna musik tersebut kita dapat menentukan karakter nasyid yang akan kita bawakan apakah itu dengan kekhasan vokal, sifat melankolis (sendu), semangat, easy listening, simpel,keharmonisan suara, ceria, berenergi dll.

1.3. Tentukan ‘aturan main’ dalam tim

Aturan main perlu ditentukan atau disepakati karena ini adalah peraturan yang akan dijalankan oleh masing-masing personil dan setiap personil sadar bila melanggarnya akan dikenai sanksi. Misalnya, jadwal latihan: pembukaan, tilawah, kultum, latihan vokal, latihan nasyid, penutup; waktu kehadiran:latihan, cek sound; keseriusan saat latihan; dan sanksi bila ada yang melanggarnya.Biasanya latihan berselang antara 2 hingga 3 jam. Pendanaan juga merupakan hal yang harus diatur dalam tim. Apakah itu pendanaan dalam hal kostum, alat pendukung, pembagian honor, konsumsi, transport dll.

Untuk penentapan insentif ada beberapa tim nasyid yang cukup mapan di Indonesia yang menetapkan nominal rupiah, hal ini diatur sesuai dengan kebutuhan pengeluaran yang diperlukan. Namun ada pula yang karena untuk acara-acara kampus atau sosial (galang dana dsb) tidak menetapkan nominal. Harapannya, tim nasyid dapat lebih bijakasana untuk masalah intensif. Namun kebijaksanaan tersebut diharapkan pula ada pada panitia/pengundang (Rasanya tidak adil memang, orang-orang yang sekedar mengajak jejingkrakan dibayar sangat mahal. Sementara mereka yang berpeluh, meneriakkan kebenaran seraya mengingatkan larangan-larangan Allah seringkali dilabeli harga yang tidak manusiawi. Bahkan tak jarang berbalas ucapan “terima kasih”. Penyanyi dangdut kampung pun bisa mendapatkan 200 sampai 500 ribu untuk tampil satu malam di sebuah hajatan pernikahan.Kasus ini bukan hanya pada munsyid, tapi juga para dai dan ustadz. Sebenarnya, ini bukan tentang berapa jumlahnya yang harus dibayarkan untuk seorang ustadz, muballigh, da’i dan munsyid. Ini lebih tentang bagaimana kita memuliakan orang-orang yang membantu kita untuk terus mengingat Allah). Oleh karena itu sebuah tim harus punya posisi tawar. Lepas dari intensif, fokus utama tim tetaplah dakwah, meskipun ada banyak biaya yang harus dikeluarkan sebuah tim nasyid (biaya latihan, transportasi, studio, perlengkapan nasyid seperti kostum, stand flute, alat musik. Belum lagi pemutaran pendapatan ke kegiatan dakwah lain, yang mungkin dilakukan sebagian tim). Tapi, yakinlah...Allah itu dekat. Ada balasan akhirat yang jauh lebih penting untuk diperjuangkan.

1.4. Tentukan sasaran dakwah

Kejelasan kepada siapa misi akan digulirkan dan kepada kalangan kesadaran keislaman seperti apa adalah rahasia keberhasilan tim-tim nasyid sukses seperti Raihan yang dapat diterima oleh kalangan tua dan muda dengan kesadaran keislaman yang cukup mendalam atau Snada yang dapat diterima oleh kalangan intelektual yang berpikir cukup kritis atau Bimbo yang diterima oleh “islam abangan”.

1.5. Tentukan pelatih atau berlatih sendiri

Dengan adanya pelatih kita dapat lebih mengontol bagaimana vokal yang dihasilkan sehingga dapat dievaluasi apabila ada kesalahan. Namun bila berlatih sendiri juga dapat menggunakan hasil rekaman latihan kita dengan berpatokan pada kaset tim yang ingin kita latih sebagai awalan.

1.6. Tentukan tempat latihan

Tempat berkumpul sangat penting seperti pada zaman Rosulullah saw yang memiliki tempat berkumpul di rumah sahabatnya sebagai tempat pertukaran informasi yang aman. Begitu pula tempat latihan atau sekretariat yang tersedia sarana dan prasarana latihan seperti radio kaset, kaset, papan tulis, spidol, konsumsi air minum, aula maupun kamar mandi. Dan akan lebih baik lagi bila merupakan studio rekaman yang kedap suara dengan alat musik piano maupun gitar. Sekret juga dapat berfungsi sebagai sumber info bagi para anggota atau personil.

1.7. Tentukan jaringan komunikasi

Berguna untuk penyampaian informasi dengan efektif dan cepat antar tim. Dapat dilakukan oleh manajer atau bagian humas dengan membuat alur siapa yang akan dihubungi dari si A sampai si E (bila 5 orang). Namun bila tidak, berarti tiap personil harus aktif menanyakan kepada bagian humas, ketua tim atau datang ke sekretariat yang memiliki info pengumumannya. Dizaman serba canggih, jaringan komunikasi tentu lebih muda. Misalnya dengan jaringan SMS yang teratur.

1.8. Bangun jaringan

Jaringan disini maksudnya adalah hubungan kita dengan para pendengar kita, seperti apabila kita diundang oleh seseorang atau sebuah instansi sebisa mungkin agar dijaga dengan baik dalam keseharian kita maupun dapat memberikan kartu nama kita. Atau untuk awalan kita memang tidak bermaksud mencari insentif namun kita mencari pengalaman dan “kawan”, karena bila kita tampil maksimal dengan teknik yang baik insya Allah orang akan melihat kita sebagai sebuah tim yang memang profesional dan patut mendapat penghargaan lebih. Dan dalam hal membangun jaringan yang perlu ditekankan adalah kita tidak membatasi “kawan” yang akan kita jalin dan siap untuk pengorbanan apa saja baik itu materi, fisik, waktu, hati (dikecewakan panitia) dan lain sebagainya karena memang kita niatkan untuk berdakwah lillahi ta’ala.

1.9. Tentukan target

Kita dapat menentukan target jangka pendek dan jangka panjang. Seperti untuk jangka pendek kita mau agar tim kita sudah dikenal di lingkungan maupun daerah atau wilayah kita dan kekompakan tim juga sudah terbentuk. Dan untuk jangka panjang kita dapat menentukan rencana rekaman apakah itu dengan mengumpulkan modal dari mana saja termasuk dari tim dan memilih jalur rekaman independent atau indie label. Atau dengan mengirimkan kaset demo kita kepada produser-produser rekaman besar dengan harapan dapat diterima untuk rekaman di major label yang lebih baik kualitasnya.

2. Organizing (Pengaturan/perapihan)

2.1. Tentukan struktur organisasi dalam tim, seperti :

2.1.1. Ketua; bertugas memimpin tim atau menjadi pengingat akan kegiatan-kegiatan tim baik itu menyangkut nasyid atau di luarnya (rekreasi, latihan fisik dll) serta memimpin jalannya rapat tim.

2.1.2. Sekretaris; mendokumentasikan setiap kegiatan tim baik itu dalam bernasyid atau diluar nasyid. Juga menginformasikan jadwal kegiatan kepada tiap personil serta masalah kelengkapan sarana dan prasrana tempat sekretariat.

2.1.3. Bendahara; mengatur uang masuk dan keluar dengan pendistribusian keuangan untuk hal-hal yang menyangkut nasyid atau bukan (konsumsi, transportasi, kostum, insentif, rekreasi tim dll).Semua dicatat dengan pencatatan yang baik dan diinformasikan kepada tim.

2.1.4. Humas; menjadi mediator antara masyarakat peminat nasyid dengan tim dengan selalu menjaga hubungan baik dan melakukan promosi kepada masyarakat luas dalam berbagai bentuk.

2.1.5. Produksi; menjadi tim kreatif yang akan mengumpulkan nasyid-nasyid ciptaan masing-masing personil ataupun orang lain lalu mengurus masalah rekaman.Tim ini menyangkut masalah produksi kaset rekaman dengan mengatur pembuatan kaset demo dsb.

Semua dapat dilakukan oleh tim nasyid itu sendiri maupun tim nasyid dapat menunjuk sebuah tim manajemen tersendiri yang akan mengatur semuanya.

Untuk sebuah tim yang cukup mapan atau sedari awal sudah berniat ”go public”, struktur Organisasi bisa ditambah dengan Penasihat, Manajer, dan Asisten. Penasihat berperan untuk mediator dan pemberi saran untuk memecahkan masalah Tim. Manajer berperan memanajemeni Tim, seperti membuat dan menjaga link, mencari job, dan menjaga keutuhan tim. Asisten berperan menyediakan kebutuhan-kebutuhan formasi inti (Tim nasyid).

2.2. Rapat tim

Rapat tim menentukan tentang arah perjalanan tim dari visi dan misi yang telah disepakati pada awalnya lalu juga sebagai media komunikasi antar tim bila ada permasalahan yang harus diselesaikan serta sebagai media evaluasi tim. Rapat tim bersifat wajib yang harus dihadiri oleh setiap personil.

3. Actuating (Pelaksanaan)

Untuk menjadi sebuah tim nasyid yang profesional dibutuhkan mental kesabaran, pengorbanan, usaha keras serta kesadaran akan kenyataan bahwa belum tentu sebuah tim cepat mendapat kesuksesan.

Karena banyak tim-tim nasyid yang sudah malang melintang di berbagai acara atau lomba dan bahkan menjuarainya sampai sekarang belum mendapatkan tawaran rekaman. Ini diperlukan agar kita tidak terjebak pada suatu keinginan cepat menjadi bintang dan dapat dijerumuskan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Namun ada pula tim nasyid yang begitu piawai ketika ada acara maupun lomba karena sudah banyak mengikuti perlombaan sehingga sudah tahan banting dan paham tentang seluk beluk teknis di lapangan. Sekali lagi ingat! Ketika tim nasyid menuju profesional, jangan pernah melupakan niat dakwah sebagai background profesional itu. Untuk actuating ada beberapa hal yang harus dijalankan, yaitu:

3.1. Ikuti event-event nasyid

3.1.1. Lomba

Banyak sekali yang dapat kita gali dari perlombaan nasyid apakah itu melatih kesabaran kita karena banyaknya pengorbanan yang telah kita keluarkan sehingga semua personil merasakan dan akan menjadi lebih siap dikecewakan atau tahan banting. Juga dengan melihat tim-tim nasyid yang sudah bagus teknik vokalnya. Di sana kita juga dapat menimba ilmu dari tim nasyid yang sudah bagus tersebut misalnya, dengan berkenalan dan menanyakan teknik vokal yang dipakai.

3.1.2. Acara resmi (keluarga,kampus,sekalah dan instansi)

Dari acara ini banyak jenisnya seperti walimah/pernikahan, khitanan, seminar, perayaan hari besar islam halal bihalal, bedah buku, dsb. Selain dapat menambah pemasukan juga dapat menambah relasi atau jaringan tentunya penampilan kita pun harus maksimal dengan vokal dan kostum yang sesuai. Disini juga merupakan salah satu titik sentuh dakwah kepada masyarakat yang cukup efektif dengan memperkenalkan nasyid sebagai musik alternatif islami. Untuk acara ini, tentunya sebuah tim juga perlu pengertian jika itu acara amal atau panitia kekurangan dana namun acaranya bersifat sosial. Intensif fleksibel saja, bukan sesuatu yang dikejar. Tentu suatu yang menyenangkan jika kita bisa berbagi. Akan tetapi manajer/ketua tim juga harus memiliki ”bargaining position” bagi panitia yang sebenarnya mampu tapi cenderung tidak kooperatif.

3.1.3. Tabligh dan konser nasyid

Dengan adanya acara tersebut kita dapat lebih melihat penampilan tim-tim nasyid yang sukses secara live agar kita juga dapat merasakan adanya hubungan hati serta semangat yang dibawakan beserta lagunya, dengan para munsyid sebagai sesama juru dakwah yang sedang berdakwah melalui syair.

3.3. Ketahui hal-hal teknis

3.3.1. Sound system

Kita harus mengetahui kualitas sound dengan mengeceknya. Yang pertama harus dicek adalah suara bas dengan amplitudo dan frekuensi yang lebih rendah diikuti dengan suara 1 dan tenor 1, 2, 3. Lalu ketersediaan sound monitor agar suara dapat kita dengar sendiri demi menghindari ketertinggalan suara.

3.3.2. Micing

Untuk suara vokalis ada pengontrolan mic yaitu jarak mic dengan mulut atau sumber suara. Seperti suara pengiring dengan vokal yang berbeda kekuatannya, jadi suara pengiring harus lebih jauh jaraknya dari mulut dibandingkan dengan suara vokal utama dan bas (bila acapella).

3.3.3. Rekaman

Ada beberapa tahapan seperti take vocal, balancing, mixing dan mastering.

3.3.4. Penampilan

Mengenai penampilan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti

3.3.4.1. Penghayatan

Disesuaikan dan disepakati dengan lagu yang akan dibawakan karena akan menentukan diterima atau tidaknya syair yang kita sampaikan.

3.3.4.2. Komunikasi massa

Berkomunikasi dengan masyarakat pendengar harus disesuaikan dengan usia audiens dan tingkat pemahaman keislamannya agar materi yang dibawakan tidak menyimpang dari topik yang dimengerti.

3.3.4.3. Pandangan mata.

Pandangan mata adalah salah satu bentuk komunikasi kita saat bernyanyi karena menunjukkan pemahaman kita pula dalam membawakan syair tersebut.. Seolah-olah kita sedang berbicara dengan audiens yang merupakan hakikat dakwah itu sendiri.


3.3.4.4. Posisi tubuh

Tim nasyid Suara Persaudaraan menggunakan inspirasi memakai posisi seperti hewan. Untuk bagian atas/mulut menggunakan mulut ikan yang moncong kedepan dengan maksud penggunaan nafas yang maksimal dan artikulasi yang jelas. Lalu posisi tangan seperti kepak sayap burung agar dalam memegang mic juga lebih nyaman serta badan tegap namun tidak kaku/rileks.


3.3.5. Citra

Yang lebih penting dan sebagai inti dari nasyid sebagai seni dakwah adalah citra munsyid baik di atas panggung maupun di bawah panggung. Karena munsyid sebagai da’i yang harus menjadi teladan bagi masyarakat sekitar. Misalnya, mengisi waktu dengan membaca Al Quran atau saat tampil diisi dengan tausyiah sebelum take vocal.

4. Controlling/Evaluasi (Pengawasan)

Hal ini merupakan salah satu bagian yang harus ada dalam sebuah tim karena merupakan cermin untuk perbaikan tim kedepan dan sebagai media komunikasi. Apabila sebuah tim tidak melakukan evaluasi, maka dia akan terus stagnan dan tidak mengalami perkembangan karena yang diutamakan dalam sebuah tim adalah kualitas dari tim itu sendiri. Juga evaluasi dapat mengontrol kesalahan dari masing-masing personil. Hal ini perlu untuk melatih keterbukaan dalam tim dengan setiap personil harus mau menerima kritikan secara lapang dada sebagai upaya untuk pengembangan diri serta melatih kesabaran. Karena menurut pengalaman, suatu tim yang tidak terbuka satu sama lain akan dapat mempengaruhi kelanggengan tim dan pada saat vocalling akan terhambat oleh perasaan yang dipendam dalam hati. Hasil evaluasi dapat berasal dari kaset rekaman, teman satu tim, pelatih, pendengar dan lain sebagainya.
Hasil evaluasi harus di-follow up-i dengan suatu tindakan penangnan yang tepat dan diusahakan tidak terlalu lama dibiarkan karena akan cepat dilupakan dengan kesibukan lainnya.

Dari http://bncbogor.multiply.com/

Kamis, 15 Desember 2011

Hukum Nyanyian dan Musik

FORUM SILATURRAHIM REMAJA MASJID MUTHMAINNAH: Fiqih: Hukum Nyanyian dan Musik:


Diantara hiburan yang dapat menyegarkan jiwa, menggairahkan hati, dan memberikan kenikmatan pada telinga, adalah nyanyian. Islam memperbolehkannya selama tidak mengandung kata-kata keji dan kotor, atau menggiring pendengarnya berbuat dosa. Demikian juga, tidaklah mengapa bila nyanyian itu diiringi dengan musik selama tidak melenakan. Bahkan itu dianjurkan pada momen-momen kebahagiaan dalam rangka menebarkan perasaan gembira dan menyegarkan jiwa. Misalnya pada hari raya, pesta pernikahan, kehadiran orang yang sekian lama pergi, resepsi pada acara istimewa, aqiqah, atau saat kelahiran anak.

Dari Aisyah ra. bahwa ia mengantar pengantin perempuan kepada pengantin laki-laki dari kalangan Anshar. Nabi SAW. berkata kepadanya,

"Wahai Aisyah, mereka tidak menyertakan hiburan? Orang-orang Anshar itu menyukai hiburan." (HR. Bukhari)

Ibnu Abbas ra. berkata bahwa ketika Aisyah menikahkan kerabat dekatnya dengan seorang Anshar, Rasulullah SAW. datang dan bertanya, "Kalian akan menghadiahkan gadis itu?" "Ya," jawab mereka. Beliau lalu berkata, "Apakah kalian juga menyertakan orang-orang yang bernyanyi?" "Tidak," jawab Aisyah. Lantas Rasulullah SAW. bersabda, "Sungguh orang-orang Anshar itu romantis. Karenanya alangkah baik jika kalian sertakan juga orang yang bertutur, 'Kami datang pada kalian / Kami datang pada kalian / Sejahteralah kalian / Sejahteralah kalian.'" (HR. Ibnu Majah).
Dari Aisyah ra., ia berkata bahwa Abu Bakar ra. masuk ke rumahnya pada suatu hari Mina (Hari Raya 'Idul Adha), sedang saat itu disampingnya ada dua gadis yang tengah bernyanyi dan memukul rebana, sementara Nabi SAW. berada di situ dengan menutup wajahnya dengan pakaiannya. Serta merta Abu Bakar mengusir kedua gadis itu. Mendengar itu, Nabi SAW membuka tutup wajahnya dan berkata, "Biarkan mereka wahai Abu Bakar, saat ini adalah hari raya." (Muttafaqun 'alaih).

Imam Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menyebutkan bahwa hadits-hadits tentang dua gadis, permainan orang-orang Habasyah di Masjid Nabi SAW., dan aplaus Nabi buat mereka dengan mengatakan, "Ayolah terus, wahai Bani Arfidah!" dan perkataan Nabi SAW. kepada Aisyah, "Kamu ingin menyaksikannya?" dan berdirinya Nabi bersama Aisyah untuk menonton hingga bosan, juga tentang Aisyah bermain boneka bersama sahabat-sahabat wanitanya, dikomentari olehnya dengan mengatakan, "Hadits-hadits ini semuanya terapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Ini merupakan dalil yang jelas yang menunjukkan bahwa nyanyian dan permainan itu tidak haram. Hadits-hadits ini menunjuk beberapa hal yang ditolerir, antara lain:

Pertama, bermain (keterampilan), dan tidak asing lagi tentang kebiasaan orang-orang Habasyah dalam menari dan bermain.

Kedua, kegiatan itu dilakukan di masjid.

Ketiga, sabda Nabi SAW. kepada orang-orang Habasyah, "Ayolah terus, wahai Bani Arfidah!" menunjukkan perintah dan aplaus untuk terus bermain. Lalu bagaimana mungkin hal itu diharamkan?

Keempat, ingkarnya Nabi atas sikap Abu Bakar dan Umar ra. yang membenci hiburan, dengan beralasan bahwa saat itu adalah hari raya; yakni waktu bersenang-senang. Inipun termasuk hiburan yang menyenangkan.

Kelima, diamnya Nabi SAW. yang begitu lama ketika menyaksikan hiburan itu, untuk menyenangkan hati Aisyah ra. Peristiwa itu menjadi alasan bahwa akhlak yang baik dengan membuat senang hati para wanita dan anak-anak dengan menyaksikan permainan itu lebih baik daripada sikap keras zuhud dan mengekang diri, serta menjauh dari kesenangan.

Keenam, pertanyaan Rasulullah SAW. kepada Aisyah, "Apakah kamu suka menyaksikannya?" (HR. Bukhari)

Ketujuh, dispensasi hukum untuk menyanyi dan menabuh rebana dari dua orang gadis, ...," dan seterusnya, seperti yang diutarakan oleh Imam Ghazali dalam As-Sima.

Diriwayatkan dari beberapa sahabat dan tabi'in ra. bahwa mereka mendengarkan nyanyian dan tidak memandang hal itu sebagai dosa.

Adapun hadits-hadits Nabi tentang larangan terhadap nyanyian, semuanya "penuh cacat" dan tidak satu pun yang selamat dari kritik para ahli hadits. Abu Bakar Ibnu 'Arabi berkata, "Tidak ada satu pun hadits shahih tentang pengharaman nyanyian." Ibnu Hazm berkata, "Semua riwayat tentang haramnya nyanyian adalah batil dan palsu."

Seringkali nyanyian dan musik dibarengi dengan sikap berlebih-lebihan, minuman keras, dan begadang yang diharamkan. Inilah yang menyebabkan kebanyakan ulama mengharamkan nyanyian atau memakruhkannya. Sebagian dari mereka berkata, "Nyanyian termasuk kata-kata yang sia-sia yang disebut dalam firman-Nya,

'Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.' (Luqman: 6).'"

Mengomentari ini, Ibnu Hazm berkata, "Ayat tersebut sesungguhnya menyebut satu sifat yang barangsiapa melakukannya, ia menjadi kafir, tanpa ada khilaf di kalangan ulama; yaitu bila seseorang menjadikan jalan Allah sebagai bahan olok-olok. Inilah yang dicela oleh Allah SWT. Namun Allah sama sekali tidak mencela orang yang 'membeli' laghwal hadits untuk sekedar menghibur dan menyegarkan jiwanya, bukan untuk menyesatkan orang dari jalan Allah."

Ibnu Hazm juga membantah orang-orang yang menganggap bahwa nyanyian itu tidak termasuk dalam kategori kebenaran, berarti ia termasuk kebatilan, karena Allah SWT berfirman,
"...Tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.." (Yunus: 32).

Ibnu Hazm berkata, "Sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda,
'Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan sungguh bahwa bagi setiap orang apa yang diniatkannya.' (Muttafaqun 'alaih).

Karena itu, barangsiapa mendengarkan nyanyian dalam rangka membantunya berbuat maksiat kepada Allah, niscaya ia fasik -demikian juga selain nyanyian. Namun barangsiapa berniat sekedar menghibur dirinya agar mengokohkan jiwanya untuk semakin taat kepada Allah dan menggairahkan hatinya untuk berbuat kebajikan, tentu ia adalah orang yang taat dan berbuat kebajikan pula, dan perbuatannya itu benar adanya. Akan halnya orang yang tidak berniat untuk taat maupun untuk maksiat, ia berarti melakukan perbuatan sia-sia yang dimaafkan, seperti seseorang yang pergi ke taman untuk rekreasi, duduk-duduk di beranda rumahnya untuk melihat pemandangan, atau kegiatan mewarnai bajunya dengan warna ungu, hijau, atau lainnya..."

Namun demikian, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam masalah nyanyian ini:

1. Tema nyanyian hendaknya tidak berlawanan dengan etika dan ajaran Islam. Bila ada nyanyian yang mengagung-agungkan minuman keras atau menganjurkan orang untuk mengkonsumsinya, misalnya, tak pelak nyanyian itu berikut kegiatan mendengarkannya adalah haram. Begitu juga hal-hal yang serupa dengannya.

2. Mungkin tema nyanyian tidak bertentangan dengan ajaran ISlam, akan tetapi cara menyanyikannya menyebabkan ia bergeser dari wilayah halal ke wilayah haram. Misalnya, dengan tarian yang berlenggak-lenggok untuk sengaja membangkitkan gairah nafsu dan syahwat.

3. Agama memerangi sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam segala hal, hinggapun dalam urusan ibadah. Maka berlebih-lebihan dalam urusan yang sia-sia dan menghambur-hamburkan waktu tanpa guna, tentu lebih patut diperangi. Ingatlah, waktu adalah kehidupan itu sendiri.

Tidak diragukan lagi bahwa berlebih-lebihan dalam hal-hal yang mubah dapat mengorbankan waktu untuk kewajiban. Sungguh tepat ungkapan: "Saya tidak melihat sikap berlebih-lebihan, kecuali dibalik itu ada kewajiban yang ditelantarkan."

4. Setelah itu semua, tinggallah kini, agar setiap pendengar nyanyian hendaknya menjadi ahli fatwa bagi dirinya sendiri. Apabila nyanyian yang semacamnya itu dapat membangkitkan birahi, merangsangnya untuk melakukan maksiat, dan menyebabkan unsur hewaninya mengalahkan unsur ruhani, ia seharusnya segera menjauhinya dan menutup pintu yang menjadi jalan bagi hembusan angin fitnah bagi hati, agama dan akhlaknya. Ia-pun kini tenang dan dapat menenangkan yang lain.

4. Ulama sepakat bahwa nyanyian yang diiringi dengan hal-hal yang haram hukumnya haram pula. Seperti nyanyian untuk mengiringi minuman keras, untuk mengiringi praktek porno atau kejahatan lainnya. Inilah yang diperingatkan oleh Nabi SAW., yang para pelaku dan pendengarnya diancam dengan siksa yang pedih. Rasulullah SAW. bersabda,

"Sungguh akan ada sekelompok orang dari ummatku yang meminum khamr; mereka menamainya dengan nama lain, lalu diiringi dengan musik-musik dan para biduan wanita. Allah bakal menenggelamkannya ke dalam perut bumi dan menjadikan mereka kera dan babi." (HR. Ibnu Majah).

Tidak tentu bahwa yang diubah menjadi babi dan kera adalah bentuk fisiknya, bisa juga mental dan kepribadiannya, Sosoknya sosok manusia namun jiwanya kera dan mentalnya babi.

Wallahua'lam bisshawab.

(Diketik ulang oleh: Muhammad Hidayat. Dikutip dari kitab: Al-Halal wal Haram fil Islam -terjemahan bahasa Indonesia- karya Dr. Yusuf Qardhawi pada halaman 417. Diterbitkan oleh Intermedia: 2003)

Kamis, 27 Oktober 2011

Nasyid Haroki

Bismillah,
Sangat tertarik untuk membahas masalah yang satu ini, karena nasyid haroki cukup terkenal apa lagi untuk para aktivis dakwah. Karena liriknya yang penuh dengan motivasi dan semangat untuk berjuang di medan dakwah yang tidak mulus.

Salah satu contoh potongan sebuah nasyid haroki:

"Letih tubuh di dalam perjalanan
Saat hujan dan badai merasuki badan
Namun, kita harus terus bertahan
karena perjalanan masih panjang"
Mungkin sebagian besar masyarakat indonesia tidak asing dengan lirik nasyid yang di bawa kan oleh IZIZ "Jejak", salah satu tim nasyid yang bergenre haroki dan termasuk yang sudah senior pastinya.


Lalu, apa itu Nasyid Haroki?? Seperti yang di singgung di atas, dan informasi tambahan. Nasyid Haroki adalah Sebuah aliran lagu di dalam nasyid yang bertemakan jihad, sehingga tidak lepas dari perjuangan dan semangat.

Untuk sejarahnya sendiri saya pribadi tidak tahu pasti. Untuk team nasyid yang lagu-lagunya beraliran haroki sendiri (yang saya ketahui dan pernah membawakan lagunya) ada Shoutul Harokah dan IZIZ.

Jadi, Tidak hanya ada lagu yang bertemakan cinta saja yang ada pada nasyid. Namun, nasyid yang bertemakan perjuangan inilah dia Nasyid Haroki. Liriknya yang memotivasi untuk berjuang di jalan dakwah ini. Semoga bermanfaat kawan-kawan.

Rabu, 26 Oktober 2011

Faktor Penghambat Nasyid

Bismillah,
Kawan-kawan para pecinta nasyid. Minggu lalu kita sudah membahas sedikit masalah tentang nasyid, dari definisi, sejarah dan perkembangannya serta masalah sedikit hukum nasyid. Kini kita coba membahas apa faktor-faktor penghambat ato penyebab nasyid yang bisa di katakan booming, kini mulai bisa di katakan redup, walau pun sebenarnya tidak bisa di katakan redup.



Mengamati perkembangan saat ini, khususnya di Indonesia, nasyid sebenarnya mengalami peningkatan animo yang cukup bagus. Di tingkat bawah, sekolah-sekolah menengah bahkan sekolah dasar nasyid tetap masih sangat diminati. Sekolah Islam terpadu bahkan sekolah dasar umum rata-rata paling tidak memiliki satu grup nasyid, apalagi di kota-kota besar, gejala ini sangat kentara. Ada lebih kurang 1500 tim nasyid di seluruh Indonesia. Namun demikian sangat sedikit sekali yang berhasil menjejakkan kakinya di tingkat nasional, padahal di Indonesia ragam nasyid cukup variatif mulai dari jenis perjuangan, fashion, langgam sampai puji-pujian tidak seperti negeri jiran malaysia dan singapura yang hanya memiliki satu jenis nasyid yaitu langgam melayu. Ada beberapa faktor mengapa nasyid masih berjalan di bawah bayang-bayang, tidak muncul ke permukaan:


Pertama, kemampuan bernasyid dari tim-tim nasyid yang masih sangat rendah. Tim nasyid lebih dibekali oleh semangat belaka tanpa latar belakang pemahaman bermusik yang memadai. Akibatnya hanya sedikit sekali tim nasyid yang laik tampil dan laik tayang. Sisanya terpaksa harus hanya manggung dari RW ke RW.

Kedua, banyak tim nasyid yang tidak memahami definisi nasyid sehingga mereka hanya ikut-ikutan, tidak memiliki konsep yang jelas bagaimana karakter nasyid dan mau diapakan konsep tadi. Nasyid bukan sekedar seni islam, tapi ia adalah senandung yang menggerakkan orang yang melantunkannya dan orang yang mendengarnya. Nasyid bukan hanya sekedar bagaimana membawakannya namun lebih dari itu ia adalah bagaimana mengamalkan apa yang ada di dalam setiap bait syair yang dibawakan. Nasyid sejatinya adalah mengajak orang untuk berbuat kebaikan dan menjauhi keburukan, seperti halnya seorang da’i yang berceramah, ceramah itu akan jauh lebih bermakna apabila sang da’i adalah orang pertama yang menjalankan setiap perkataan yang disampaikannya dan mencontohkan semua teladan yang diucapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dari titik ini maka memaknai nasyid semestinya harus sejalan dengan memaknai islam. Seorang munsyid (pelantun nasyid) semestinya adalah da’i dalam bentuk yang berbeda, apalagi sebuah tim nasyid, mereka adalah para da’i yang berkolaborasi untuk mengajak pemirsanya mengenal islam lebih baik lagi.

Ketiga, pemahaman yang kurang memadai dari kebanyakan tim nasyid dalam menampilkan nasyid itu di tengah-tengah masyarakat. Hal ini menyebabkan nasyid tidak tepat sasaran. Sebagai seni islam, nasyid bukan hanya layak dibawakan dalam suasana, kondisi dan situasi yang umum saja, bahkan nasyid sebenarnya adalah senandung yang berlaku di semua kesempatan umum dan khusus, yang ketika menampilkannya harus mengacu kepada etika islam dalam pergaulan, etika islam dalam berpakaian dan etika islam dalam berekspresi. Karena itu tidak mungkin sebuah tim nasyid membawakan nasyidnya dalam perhelatan yang dalamnya mencampuradukkan yang haq dan yang batil, audience yang sedang mabuk, bercampur antara pria dan wanita atau bahkan dalam pakaian dan ekspresi yang tidak islami.

Keempat, Manajemen tim nasyid yang memang belum memadai untuk membawa timnya ke tengah masyarakat, terutama industri media dan rekaman sehingga kebanyakan tim nasyid baru berhasil menampilkan identitasnya di lingkungan yang jauh dari industri media dan rekaman.
 
Kelima, komunitas nasyid cenderung tidak ekspresif dan asertif. Komunitas nasyid sering merasa cukup puas apabila tim nasyid kesukaannya bisa tampil di panggung. Mereka kurang mencoba untuk mendorong tim-tim nasyid masuk kedalam acara-acara di stasiun teve, baik lewat surat yang dilayangkan ke stasiun teve tertentu, atau memberi informasi kepada manajemen tim nasyid agar mereka bisa mendapatkan akses menembus stasiun teve nasional. Belajar dari komunitas dangdut misalnya, mereka berhasil menggabungkan seluruh elemen dalam industri musik dangdut: penyanyinya, manajemennya, fans, produser, distributor, event organizer, bahkan masyarakat penggemar dangdut untuk saling bahu membahu meningkatkan citra musik ini, sehingga sampai hari ini dangdut bisa diterima di tengah-tengah masyarakat, eksis berkiprah dan didukung oleh jutaan pemirsa stasiun teve dan media lainnya dari semua level strata ekonomi.

Semoga, 5 faktor beserta penjelasan yang cukup panjang tadi dapat bermanfaat bagi kamu-kamu pecinta nasyid dan harapan yang pasti bagi kita, nasyid dapat ke atas lagi dalam artian tidak asing di mata masyarakat dan tetap menjadi sebuah seni islam yang menghibur, memotivasi, dan menasihati kita akan kehidupan di dunia dan akhirat. Amin.
Referensi:
1. http://ann.or.id/sejarah-nasyid/

Minggu, 23 Oktober 2011

Beberapa faktor yang harus di perhatikan umat islam ketika mendengar musik dan nyanyian

1. Lirik Lagu yang Dilantunkan. Hukum yang berkaitan dengan lirik ini adalah seperti hukum yang diberikan pada setiap ucapan dan ungkapan lainnya. Artinya, bila muatannya baik menurut syara`, maka hukumnya dibolehkan. Dan bila muatanya buruk menurut syara`, maka dilarang.

2. Alat Musik yang Digunakan. Sebagaimana telah diungkapkan di muka bahwa, hukum dasar yang berlaku dalam Islam adalah bahwa segala sesuatu pada dasarnya dibolehkan kecuali ada larangan yang jelas. Dengan ketentuan ini, maka alat-alat musik yang digunakan untuk mengiringi lirik nyanyian yang baik pada dasarnya dibolehkan. Sedangkan alat musik yang disepakati bolehnya oleh jumhur ulama adalah ad-dhuf (alat musik yang dipukul). Adapun alat musik yang diharamkan untuk mendengarkannya, para ulama berbeda pendapat satu sama lain. Satu hal yang disepakati ialah semua alat itu diharamkan jika melalaikan.



3. Cara Penampilan. Harus dijaga cara penampilannya tetap terjaga dari hal-hal yang dilarang syara` seperti pengeksposan cinta birahi, seks, pornografi dan ikhtilath.

4. Akibat yang Ditimbulkan. Walaupun sesuatu itu mubah, namun bila diduga kuat mengakibatkan hal-hal yang diharamkan seperti melalaikan shalat, munculnya ulah penonton yang tidak Islami sebagi respon langsung dan sejenisnya, maka sesuatu tersebut menjadi terlarang pula. Sesuai dengan kaidah saddu adz dzaroi` (menutup pintu kemaksiatan).

5. Aspek Tasyabuh atau Keserupaan dengan Orang Kafir. Perangkat khusus, cara penyajian dan model khusus yang telah menjadi ciri kelompok pemusik tertentu yang jelas-jelas menyimpang dari garis Islam, harus dihindari agar tidak terperangkap dalam tasyabbuh (penyerupaan)dengan suatu kaum yang tidak dibenarkan. Rasulullah saw. bersabda: "Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk mereka." (HR Ahmad dan Abu Dawud)

6. Orang yang Menyanyikan. Haram bagi kaum muslimin yang sengaja mendengarkan nyanyian dari wanita yang bukan muhrimnya. Sebagaimana firman Allah SWT.: `Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.` (QS Al-Ahzaab 32)

Anda suka Nasyid? Bagaimana Hukum Nasyid dan Musik dalam Islam?



Bismillah,
Assalamualaikum wr wb
Masalah nasyid dan musik disikapi secara berbeda oleh banyak ulama. Dari yang paling hati-hati hingga yang paling moderat. Namun keduanya tetap mengacu kepada dalil-dalil agama, lewat alur ijtihad masing-masing. Sehingga memang kita bisa maklumi bila hasil kesimpulannya sedikit berbeda.

Kalangan ulama yang agak berhati-hati cenderung meninggalkan segala bentuk musik, bahkan termasuk nasyidnya sendiri. Dalam kaca mata mereka, kalau tujuannya hiburan, seharusnya setiap mukmin itu bukan menyanyi melainkan membaca Al-Quran dan mengingat kepada Allah.

Dalil yang mereka kemukakan adalah firman Allah SWT:
Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd: 28)


Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun....(QS. Al-Hadid: 16)
Dengan membaca Al-Quran atau mendengarkannya, seorang mukmin akan mendapatkan tambahan iman. Sebagaimana firman-Nya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(QS. Al-Anfal: 2)
Buat mereka, tidak layak seorang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya menyelesaikan masalah kegundahan hatinya dengan hiburan lagu dan musik.

Seharusnya bacaan Al-quran dan ingat kepada Allah sudah cukup buat mereka. Maka muncullah pendapat yang mengharamkan lagu dan musik.
Apalagi mengingat kenyataan di masa itu bahwa musik itu tidak diperdengarkan kecuali di tempat-tempat di mana orang lupa kepada Allah. Musik di masa itu selalu ditampilkan secara live oleh rombongan pemusiknya, mereka kemudian menghabiskan waktu sepanjang siang dan malam hanya untuk sekedar berasyik masyuk mendengarkan lantunan lagu. Bahkan mereka berdendang, menyanyi dan menari mengikuti irama sepanjang waktu.

Di masa sekarang ini, kalau kita mendengarkan jenis musik dan irama padang pasir, memang selalu ditampilkan dalam waktu yang sangat tidak efisien alias lama sekali. Tentu saja cara seperti ini sangat sia-sia dan membuang waktu.
Maka wajarlah bila para ulama di masa lalu memandang bahwa mendengarkan musik itu merupakan aktifitas yang tidak produkti, melalaikan dan hanya buang waktu. Padahal seorang muslim ini tidak boleh membuang-buang waktu secara percuma. Maka kalau kita telurusi jejak fatwa para ulama yang mengharamkan lagu dan musik, salah satu dalil utama mereka dalam mengharamkannya karena masalah buang waktu dan kesia-siaannya.

Selain itu memang cukup banyak terdapat dalil yang bisa dijadikan landasan untuk mengharamkan nasyid dan musik.
Sungguh akan ada di antara umatku, kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat-alat yang melalaikan`. (HR Bukhari)
Juga ada hadits lain yang sering juga dijadikan dalil untuk mengharamkan mendengar alat musik dimainkan.

Dari Nafi bahwa Ibnu Umar mendengar suara seruling gembala, maka ia menutupi telinganya dengan dua jarinya dan mengalihkan kendaraannya dari jalan tersebut. Beliauberkata, "Wahai Nafi` apakah engkau dengar?" Saya menjawab, "Ya." Kemudian melanjutkan berjalanannya sampai saya berkata, "Tidak." Kemudian Ibnu Umar mengangkat tangannya, dan mengalihkan kendaraannya ke jalan lain dan berkata, "Saya melihat Rasulullah saw. mendengar seruling gembala kemudian melakukan seperti ini." (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dari Umar bin Hushain, bahwa Rasulullah saw. berkata tentang umat ini, "Gerhana, gempa dan fitnah." Berkata seseorang dari kaum muslimin, "Wahai Rasulullah kapan itu terjadi?" Rasul menjawab, "Jika biduanita, musik dan minuman keras dominan." (HR At-Tirmidzi).

Madzhab Maliki, Syafi`i dan sebagian Hambali berpendapat bahwa mendengar nyanyian adalah makruh. Jika mendengarnya dari wanita asing maka semakin makruh. Menurut Malik bahwa mendengar nyanyian merusak muru`ah (wibawa/kehormatan).
Adapun menurut Imam Asy-Syafi`i, musik dan lagu dimakruhkankarena mengandung lahwu (tidak bermanfaat dan sia-sia serta buang waktu). Dan Imam Ahmad mengomentari dengan ungkapannya, "Saya tidak menyukai nyanyian karena melahirkan kemunafikan dalam hati."

Pendapat yang Lebih Moderat
Di luar dari kalangan yang agak berhati-hati, ternyata kita pun mendapati adanya kalangan ulama yang lebih agak moderat. Di mana mereka tidak mengharamkan secara mutlak, melainkan masih memilah dan memberikan beberapa persyaratan tertentu. Aritnya, bila syaratnya terpenuhi, mendengarkan lagu atau musik itu masih bisa ditolelir. Antara lain:
• Tidak boleh disertai kemungkaran, seperti sambil minum khomr, berjudi, zina dan campur baur laki dan wanita.
• Tidak ada kekhawatiran timbulnya fitnah seperti menyebabkan timbul cinta birahi pada wanita atau sebaliknya.
• Tidak menyebabkan lalai dan meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan shalat atau menunda-nundanya dan lain-lain.
Jumhur ulama menghalalkan mendengar nyanyian, tetapi berubah menjadi haram bila syarat-syaratnya tidak terpenuhi.
Adapun latar belakang mereka tidak mengharamkannya secara total, adalah karena mereka punya pendapat sendiri atas dalil-dalil yang mengharamkan di atas.

1. Hadits pertama diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, dari Abi Malik Al-Asy`ari ra. Hadits ini walaupun terdapat dalam hadits shahih Bukhori, tetapi para ulama memperselisihkannya. Banyak di antara mereka yang mengatakan bahwa hadits ini adalah mualaq (sanadnya terputus), di antaranya dikatakan oleh Ibnu Hazm. Di samping itu di antara para ulama menyatakan bahwa matan dan sanad hadits ini tidak selamat dari kegoncangan (idhtirab). Katakanlah, bahwa hadits ini shohih, karena terdapat dalam hadits shohih Bukhori, tetapi nash dalam hadits ini masih bersifat umum, tidak menunjuk alat-alat tertentu dengan namanya. Batasan yang ada adalah bila ia melalaikan.

2. Hadits kedua dikatakan oleh Abu Dawud sebagai hadits mungkar. Bahkan meski hadits ini shahih, maka sebenarnya dari teks hadits itu tidak bisa dikatakan bahwa Rasulullah saw secara jelas telah mengharamkannya. Bahkan Rasulullah saw mendengarkannya sebagaimana juga yang dilakukan oleh Ibnu Umar.

3. Sedangkan hadits ketiga menurut mereka adalah hadits gharib. Dan hadits-hadits lain yang terkait dengan hukum musik, jika diteliti ternyata tidak ada yang shahih.
Imam Al-Haramain dalam kitabnya, An-Nihayah dan Ibnu Abi Ad-Dunya yang menukil dari Al-Itsbaat Al-Muarikhiin; bahwa Abdullah bin Zubair memiliki budak-budak wanita dan gitar. Dan Ibnu Umar pernah ke rumahnya ternyata di sampingnya ada gitar, Ibnu Umar berkata, "Apa ini wahai sahabat Rasulullah saw?" Kemudian Ibnu Zubair mengambilkan untuknya, Ibnu Umar merenungi kemudian berkata, "Ini mizan syami (alat musik) dari Syam?` Berkata Ibnu Zubair, "Dengan ini akal seseorang bisa seimbang."
Adapun ulama yang menghalalkan musik sebagaimana di antaranya diungkapkan oleh Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya, Nailul Authar adalah

• Ulama Madinah dan ulama Dzahiri dan jama`ah ahlu Sufi yang memberikan kemudahan (kebolehan) pada nyanyian walaupun dengan gitar dan biola`.

• Juga diriwayatkan oleh Abu Manshur Al-Bagdadi As-Syafi`i dalam kitabnya bahwa Abdullah bin Ja`far menganggap bahwa nyanyi tidak apa-apa, bahkan membolehkan budak-budak wanita untuk menyanyi dan beliau sendiri mendengarkan alunan suaranya. Dan hal itu terjadi di masa khilafah Amirul Mukminin Ali ra.

• Begitu juga Abu Manshur meriwayatkan hal serupa pada Qodhi Syuraikh, Said bin Al-Musayyib, Atho bin abi Ribah, Az-Zuhri dan Asy-Sya`bi.
Demikianlah pendapat ulama tentang mendengarkan alat musik. Dan jika diteliti dengan cermat, maka ulama muta`akhirin yang mengharamkan alat musik karena mereka mengambil sikap wara` (hati-hati). Mereka melihat kerusakan yang timbul di masanya. Sedangkan ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi`in menghalalkan alat musik karena mereka melihat memang tidak ada dalil baik dari Al-Qur`an maupun hadits yang jelas mengharamkannya. Sehingga dikembalikan pada hukum asalnya yaitu mubah.
Demikian sekelumit gambaran tentang khilaf ulama tentang hukum nyanyian dan musik dalam Islam. Anda harus bijak ketika bertemu dengan saudara-saudara yang cenderung berpandangan bahwa musik itu haram secara total. Mereka bukan mengada-ada, tetapi memang punya dalil tersendiri. Meski pun anda pun tidak perlu berkecil hati, karena masih banyak ulama lain yang menghalalkannya, meski dengan syarat yang ketat.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pengertian, Sejarah, dan Perkembangan Nasyid


Nasyid adalah salah satu seni Islam dalam bidang seni suara.Biasanya merupakan nyanyian yang bercorak Islam dan mengandungi kata-kata nasihat, kisah para nabi, memuji Allah, dan yang sejenisnya. Biasanya nasyid dinyanyikan secara acappela dengan hanya diiringi gendang. Metode ini muncul karena banyak ulama Islam yang melarang penggunaan alat musik kecuali alat musik perkusi.

Sejarah
Nasyid berasal dari bahasa Arab yang berarti senandung. Kata ini mengalami penyempitan makna dari senandung secara umum, menjadi senandung yang bernafaskan Islam. Nasyid dipercaya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad.Syair thola'al badru 'alaina (yang artinya telah muncul rembulan di tengah kami)yang kini kerap dinyanyikan oleh tim qosidah dan majelis ta'lim, adalah syair yang dinyanyikan kaum muslimin saat menyambut kedatangan Rasulullah SAW ketika pertama kali hijrah ke Madinah. Nasyid kemudian berkembang seiring dengan situasi dan kondisi saat itu. Misalnya nasyid di Timur Tengah yang banyak mengumandangkan pesan jihad maupun perlawanan terhadap imperialisme Israel lebih banyak dipengaruhi oleh situasi politik yang ada saat itu.

Join Seperti Mereka

radio streaming shoutcast murah indonesia, jasa pembuatan radio streaming, cara membuat radio streaming
// -->
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More